Imam Al Bukhari rahimahullahu mengatakan di dalam Shahih Al Bukhari,

عَنْ عَمْرِو بْنِ أُمَيَّةَ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْكُلُ ذِرَاعًا يَحْتَزُّ مِنْهَا فَدُعِيَ إِلَى الصَّلَاةِ فَقَامَ فَطَرَحَ السِّكِّينَ فَصَلَّى وَلَمْ يَتَوَضَّأْ

“Dari ‘Amr bin Umayyah, beliau mengatakan, ‘Aku pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam makan lengan kambing yang beliau potong. Beliau pun dipanggil untuk shalat. Beliau segera berdiri, lalu meletakkan pisau. Beliau shalat dan beliau tidak berwudhu lagi’.” (HR. Al Bukhari, nomor 675)

Tentang hadits ini, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan,

Hadits ini memiliki beberapa faidah.

Di antaranya, [1] bukan termasuk wara’, jika seseorang meninggalkan rezeki-rezeki yang enak dan ia hanya shalat terus-menerus. Dalilnya, bahwa pemuka orang-orang yang wara’—maksudnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—memakan daging.

Di antara faidahnya, [2] sebaiknya seseorang itu memilih dzira’ (bagian lengan atau kaki depan kambing). Sebab bagian ini lebih mudah untuk dipotong, lebih empuk, dan lebih lezat. Ada yang mengatakan, setiap bagian depan hewan-hewan ternak itu lebih lezat dan lebih bergizi.

Di antara faidahnya, [3] bolehnya makan dengan pisau. Maksudnya, boleh engkau memakai pisau, memotong, dan makan. Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam makan dengan pisau.

Akan tetapi, jangan engkau lakukan seperti yang dilakukan orang-orang sekarang: memotong dengan tangan kanan dan memakan dengan tangan kiri. Sebab ini haram, namun potonglah dengan tangan kiri dan makanlah dengan tangan kanan.

Termasuk dari faidah-faidah hadits ini, [4] boleh bagi seseorang meninggalkan makan dan segera shalat, meskipun makanan sudah terhidang. Karena inilah, perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di hadits yang lain (mendahulukan makan daripada shalat, ketika makanan sudah dihidangkan) adalah sunnah atau sekedar mubah. Bukan wajib.

Ada yang mengatakan, dua hadits yang dimaksud tidak bertentangan. Ini kembali kepada keadaan seseorang yang tidak mampu mengatasi nafsu makannya ketika dihidangkan makanan. Maka, hukum hadits-hadits sebelumnya itu [mendahulukan makan daripada shalat] jika hatinya terpengaruh dengan makanan dan tersibukkan dengannya. Inilah yang lebih benar maknanya.

Sumber: Ahmad bin Ali Ibnu Hajar Al Asqalani. Fathul Bari bi Syarh Shahih Al Bukhari: Juz II (wa ‘alaihi Ta’liqat Muhimmat). Kairo: Dar Ibnil Jauzi. 1434H/2013M, halaman 226.

Let's block ads! (Why?)

Original Article

Facebook Comments